Berawal dari Pondok Pesantren Hadziqiyyah rintisan KH. Hayatun Abdullah Hadziq, yang secara geografis terletak di sebelah timur pondok pesantren Roudlotul Mubtadiin yang tidak lain adalah pondok peninggalan kakek beliau KH. Hasbullah di teruskan KH. Abdullah Hadziq dan sekarang di asuh oleh KH. Ma’mun ZA. yang merupakan kakak kandung beliau dari pasangan KH. Abdullah Hadziq dan Ibu Nyai Hj. Zumrotun. Sepulang beliau dari pengembaraan menimba ilmu dan barokah dari beberapa Ulama’ jawa terkemuka salah satunya adalah KH. Arwani Amin Kudus dan menghatamkan Al Qur’an bil ghoib banyak dari santri yang berdomisli di Balekambang berkeinginan untuk belajar Al Qur’an baik bil ghoib maupun bin nadhor guna memperbaiki bacaan kepada beliau, dan ada beberapa santri yang sengaja membuat gubuk sederhana di sebelah kediaman beliau untuk menginap dan agar lebih fokus dalam mengaji dan berkhidmah, dari gubuk inilah awal cikal bakal Pon-Pes. Hadziqiyyah yang pada tahun 2012 telah berbadan hukum dengan nama Yayasan Hadziqiyyah.

Melihat animo para santri yang ingin nyantri dan khidmah dan tidak memadahinya gubuk untuk menampung para santri, pada tahun 1997 di bangunlah sebuah masjid yang terletak di sebelah timur ndalem dan enam kamar di sebelah selatan masjid sekaligus peresmian Pondok Pesantren yang di beri nama Hadziqiyyah untuk mengenang dan tabarukan kepada abah beliau yang bernama lengkap Abdullah Hadziq.

Melihat fasilitas pondok yang kurang memadahi karena belum mempunyai kamar mandi, kamar kecil dan aula untuk mengaji sedikit demi sedikit secara fisik pondok ini terus mengalami perubahan dari tahun ketahun, hingga pada tahun 2002 di mana penulis mulai mengais secercak barokah dan ilmu di pondok yang masih muda belia ini telah memliki 6 kamar, 2 aula, 1 kantor, 1 ruang dapur, 6 kamar mandi dan 5 kamar kecil.  

System Pendidikan

Sistem pendidikan yang diterapkan di Pon-Pes Hadziqiyah pada masa itu adalah sistim salafiyah di mana para santri di wajibkan mengikuti pengajian yang di ajarkan oleh beliau dan asatidz baik al qur’an (tahfidz & bi nadzor) maupun kutub as-salaf. Bagi santri yang tidak menghafalkan al qur’an pagi harinya di wajibkan mengikuti kegiatan sekolah di Madrasah Roudlotul Mubtadiin yang tidak lain adalah madrasah peninggalan abah beliau, di tunjang dengan mudzakarah kutub as-salaf (diskusi ilmiyyah kitab-kitab salaf) satu minggu 3 kali dan jam wajib belajar setiap malamnya.

Menanggapi era global yang semakin hari semakin kompleks dan memaksa kesiapan dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat yang memerlukan pendidikan sedari dini baik umum maupun agama dan juga skill/keterampilan, pondok pesantren Hadziqiyyah meresponnya dengan mendirikan sekolah formal SMP Terpadu Hadziqiyyah pada tahun 2005 yang tahun sebelumnya 2003 sudah berdiri TK Terpadu Hadziqiyyah, pada tahun 2006 mendirikan SMK Terpadu Hadziqiyyah dengan empat kompetensi keahlian yang ditawarkan: yakni Pemasaran (PM), Administrasi Perkantoran (AP), Teknik Sepeda Motor (TSM) dan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) sebagai wadah para santri dalam mempelajari sains dan teknologi tanpa meninggalkan pesantren sebagai wahana untuk mendalami ilmu agama, guna memberikan bekal para santri untuk memperoleh keseimbangan antara imtaq (iman taqwa) dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), serta berakhlak mulia.

Berdirinya Pondok Putri

Berawal dari kesadaran akan kebutuhan keseimbangan tadi ada sebagian dari masyarakat yang meminta beliau agar tidak hanya mendirikan pesantren putra saja tapi juga pesantren putri dan menitipkan putrinya untuk menuntut ilmu di pondok ini yang mana kala itu belum berdiri pondok putri sehingga santriwati menginap di ndalem.

ditahun 2005 bersamaan dengan berdirinya SMP Terpadu Hadziqiyyah memanfaatkan bangunan tak beratap bekas ndalem beliau yang lama, didirikanlah pondok pesantren putri dan musholla untuk tempat berjamaah dan pusat pengajian baik al qur’an maupun kutub as-salaf. Seiring dengan bertambahnya santriwati dibangunlah kamar untuk menginap, aula, kamar mandi dan kamar kecil. Sepertihalnya pesantren putri pesantren putra pun juga mengalami peningkatan jumlah santri, sehingga ada penambahan kamar, aula, kamar mandi dan kamar kecil.

Eksistensi Hadziqiyyah Mempertahankan Kesalafan

Meskipun demikian Pondok pesantren Hadziqiyyah tetap eksis mempertahankan pembelajaran dengan system salaf dan mengkaji kutub al-turots karya ulama’ salafuna ash-sholeh mencakup beberapa fan seperti al qur’an, tafsir, hadits, tauhid, fiqih, nahwu, shorof, tajwid dll, dan menghafalkan ilmu alat seperti matan al jurumiyyah, nadzam al imrithi, hingga al fiyyah ibnu malik yang merupakan ciri khas pondok salaf sebagai wahana memperdalam ilmu agama (tafaqquh fi al-diin).  

Pada tahun 2008 didirikan lembaga pendidikan berbasis salaf  dengan nama Madrasah Diniyyah Hadziqiyyah dengan jenjang Wustho 3 tahun dan takhossus, yang nantinya di harapkan iman taqwa dan akhlaq al karimah tetap menjadi fondasi dan bekal untuk mengarungi hidup di masyarakat.

Dengan banyaknya lembaga yang di kelola, pada tahun 2004 pesantren Hadziqiyyah telah resmi berbadan hukum dengan nama YAYASAN HADZIQIYYAH. Dan pada tahun 2012 telah diperbarui sesuai SK Menkumham Nomor AHU-2782.AH.01.04. Tahun 2012. Akte Notaris Nomor 11 Tanggal 5 Maret 2012.

Kesimpulan Yayasan Hadziqiyyah dalam merajut sistem pendidikan mengaplikasikan qoul Ulama’:  al muhafadzatu ‘ala al-qadiimi as-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah  (menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil sistem baru yang lebih baik). dalam menawarkan sistem pendidikan formal tidak serta merta meninggalkan sistem salaf tetapi tetap memprioritaskan kesalafan untuk mendalami disiplin ilmu agama dalam membekali santrinya, di era global dan era industri 4.0. serta membangun fondasi keimanan, ketaqwaan dan ahlakul karimah

One thought on “Kilas Sejarah Hadziqiyyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *